Dampak Covid 19 Pedagang Ikan Merugi, Ibu Sitna : Jarang Pembeli

Lensapost.id
Lensa Post Ibu Sitna pedagang Ikan saat beraktivitas jualan di Pasar Higeinis Gamalama Ternate (Foto.Riko/lensapoat.id)

TERNATE - Dampak dari penyebab wabah Virus Korona atau Covid 19 membuat Pedagang Ikan di Pasar Higenis Gamalama Ternate tengah Kota Ternate Maluku Utara keluhkan hasil dagangan mereka karena pendapatan menurun Drastis.

"Dagangan Ikan sekarang dan sebel wabah Virus Korona ini agak susah dibeli, sehingga kita rugi jualan ikan, sebab sebagian terjual sebegiannya tidak terjual menyebabkan ikan kita banyak rusak. Padahal Sebelum Virus Korana ini muncul itu ikan yang kita ambil sebanyak 200 kg dan itu habis dijual dalam sehari," keluh Ibu Sitna (34) pedagang ikan fufu (Ikan kering) di Pasar Higeinis Gamalama Ternate Sabtu (22/3/2020).

Lanjut Sitna, 200 kg atau 200 ekor yang kami jual pendapatnnya Rp,1.000,000,00 juta tapi itu belum di hitung ongkos angkot, kayu, dan es. Kalau suda di hitung dengan ongkos semuanya ya untungnya berkisar Rp,500,000,00.

"Sekarang 200 kg itu kami tidak berani untuk ambil karena takut tak terjual habis dan banyak yang busuk, sekarang yang ada kami ambil 100 kg saja,"tuturnya.

Menurut Ibu Sitna, 100 Kg atau seratus ekor ikan dalam sehari itu pun terjual hanya 30 ekor, sisanya 70 tak terjual. Sisanya 70 ini kadang 2 sampai 3 hari di tempat ini tidak di beli. Sehingga kadang kalau keesokan harinya masuk di hari ke 4, di hari itu kami bergegas cepat untuk jual, dan jika di waktu pagi itu sampai sore kalau susah terjual ya ikannya dilelang atau harganya dikurangi, karena ketika suda menjelang malam ikannya suda membusuk.

Hal yang samadisampaikan Bapak Ridwan (54) kepada lensapot.id ia mengatakan, pendapatan ikan ini yang kita jual ini memang sangat menurun sekali, kita jual ini hanya kembalikan modal orang. Sementara keuntungan kita tidak dapatkan.

Lensapost.id
Suasana bahana Dagangan Ikan yang tanpa pengunjung gara-gara Virus Korona (Foto.Riko/lensapost.id)

"Beberapa Minggu kemarin sebelum Virus Korona itu, ikan yang kita ambil di atas 200 Kg, dan mereka jual ke kita per-ekor senilai Rp 20,000,00 lalu kita jual Rp 25,000.00 keuntungannya yang kita dapat Rp 1000.000. Dan waktu itu ikan yang kita jual satu dua hari saja langsung habis,"jelas Ridwan.

Namun saat ini kata Ridwan, 100 ekor saja sulit dan dua hari pun belum habis karena pembeli jarang belanja sehingga kalau suda masuk di hari ketiga, ikan ini kami jual lelang agar supaya cepat habis yang awalnya Rp, 25,000 ribu suda menjadi Rp 20.000 sampai 1Rp,15,000ribu, tapi suda kami kurangi harganya itu pun tidak terjual habis tersisa 24 sampai 26 ekor sehingga kecil keuntunganya yang kami dapat kadang Rp Rp,250,000,00 sampai Rp,200,000,00.

Dikatakanya, dari harga ini belum lagi di hitung dengan harga ongkos angkot sebesar Rp 20.000.00 , kayu satu ikat Rp,20,000,00, dan es satu bantal Rp,30,000,00, tentunya hasilnya paling sedikit kami dapat jika di hitung-hitung.

(Red) "Sekarang ini parah sekali pokoknya kurang sekali dari keuntungan, keuntungan tidak dapat yang ada hanya mengembalikan modal". Ujar Ridwan.

"Ikan yang begitu banyak lalu tak terjual semuanya, hari ini jika saya orang banyak uang saya tidak terlalu berpikir. Tapi kasian membeli ikan pun dengan harga yang pas-pasan, tapi apa bole buat mau tidak mau ikannya langsung bawa pulang ke rumah untuk di makan dan sebagiannya di berikan kepada tetangga," Keluh Ridwan (Riko)

Penulis: Riko
Editor: Mahmud Tanggule
Photographer: Riko
Sumber: www.lensapost.id

Baca Juga